ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00-IDBLANTER.COM
ZDIRY-TUFWT-EBONM-EYJ00
BLANTERWISDOM105

KUMPULAN PUISI SINGKAT "TRAUMA MASA KECIL"

February 28, 2022
PUISI SINGKAT "TRAUMA MASA KECIL"

KUMPULAN PUISI SINGKAT "TRAUMA MASA KECIL"



Judul : Trauma Masa Kecil



Si Boca ingusan:

Demi setoples kelereng

Demi Selengan gelang karet

Demi Seikat kartu bergambar

Selembar uang kertas

Pindah dari dompet yang lebih besar kedompet yang lebih kecil tanpa pemberitahuan


Sang Ayah:

Marah takterbendung

Wajah beringas memerah

Mata melotot penuh intimidasi

Menghantam meja sampai mendentum

Suara bentakan yang nyaring

Seperti petir yang menyambar

Dengan kalimat-kalimat tajam menghujam

Kaki melayang diatas betis yang masih mungil


Siboca ingusan:

Di sudut ruangan

Hati tak karuan

Berdebar kencang

Bak kuda berlari sekuat tenaga

Menahan tangis tersedu-sedu

Butir-butir air mata berjatuhan di pipi

Tak sadar air urin membasahi celana


Dalih Sang Ayah:

Amarahku bukan benciku

Gertakanku karena sayangku

Pukulanku untuk merubahmu

Dari koruptor jadi lebih bermutu


Siboca ingusan:

Sesal didalam hati

Ikatan janji dihati

Tak ingin mengulangi

Bakti yang terus terpatri


Gumang si bocil:

Sepertinya ada yang salah

Hanya sehari

Merubah segalanya

Jumpa dengannya tak lagi sama dengan dulu

Didekatnya kedua kaki gemetar

Dihadapannya muka tertunduk

Tingkah jadi serba salah

Berucap hanya seperlunya

Tak ada lagi candaan

Tak ada lagi senyuman

Hanya muka datar Lagi kaku Yang selalu disaksikan

Jadi Tak percaya diri

Memendam dan bertindak sendiri

Daku Jadi Introvert.


Judul KUASA KEINDAHAN

Karya : Agus S



Tersambut gemilang dengan senyuman

Duhai pagiku mentari bertandang

Menerawang indah pun benderang

Kalam rintisnya sebuah kehidupan


Terdengar bunyi riuhnya merdu

Burung bernyanyi bersaut syahdu

Pada ranting-ranting pohon benalu

Bersiul gema rasa menggebu


Duhai harapan lirihnya doa

Sejuta mengisi pahatan warna

Antara gelap jua terangnya

Langkah ikuti takdir bicara


Tuhan selalu kusebut syukur

Dengan kuasamu tiada terukur

Kekayaan alam begitu subur

Menyambang kebesaran yang membaur


Judul : Akar Kekekrasan

Karya : Hari Untoro Dradjat



Wahai perubahan iklim

Angin yang memainkan musim

Terpaan yang belum juga selesai

Angin Gending menerjang tanaman.


Wahai pohon tumbang

Cabang dan ranting berserakan

Belum juga ada yang menyingkirkan

Di antara pohon masih tertanam akarnya.


Di perjalanan awal tahun

Lintasan malang melintang

Jalan mereka saling menyelinap

Seperti rayap menyantap sampai akarnya.


Anai-anai senyap bergerak

Akar-akar kekerasan menjalar

Bergerilya tampaknya seperti diam

Wajah dingin tanpa senyum ekspresif.


Perang di Eropa dibuka tanpa dialog

Pertikaian antar saudara saling lempar batu

Adanya perang karena saling adu kekuatan

Akar kekerasan dipicu oleh hilangnya rasa persaudaraan.


Judul : ABADI

Karya : Wan Hasan



Aku menyayangimu

Mengumpamakan deburan ombak dan pantai

Yang bercinta abadi dalam gemuruh dan badai

Dalam pasang dan surut

Tapi nyatanya tak pernah saling mengumpat, menyalahkan

Atau bahkan saling meninggalkan

Karena kepentingan yang tak harus sama


Kamu selalu memukul dengan hantaman gelombang

Aku tak perlu menjauh atau menghindar

Bukankah keindahan kita tercipta karena semua itu

Dan Tuhan mempertemukan kita pada batas

Antara gemuruh dan pasir

Antara matahari dan angin

Sehingga alam adalah rupa dari kasih sayang

Jejak langkah di pantai

Adalah jejak langkah kita

Yang kita lukis dengan keringat dan airmata


Maka aku katakan

Biarlah bahtera tetap berlabuh

Diantara pasir dan laut

Diantara ombak dan topan

Sebagaimana hidup yang selalu penuh dengan tantangan

Demi menuju kedamaian


Judul : LUKISAN PENA

Karya : AKSARA PUISI PENA



Mentari pagi telah duduk diperaduannya

Kunikmati hangat sentuhannya

Pena mengabadikannya menjadi sebuah lukisan


Pena langit mewarnai pagi dengan semburat senyuman malu malu gadis ayu

Gadis ayu itu menghipnotis pandanganku,

Dengan guratan senyum lugu.

Yang tersugu di paras wajah lugu sang gadis ayu


Aku tergugu ditepian pagi

Aksaraku mengècap keindahan gadis ayu itu

Aleniaku terasa beradu antara indah dan syahdu


Syahduku bagai irama pagi dengan rasa kècap yang manis dari cinta si gadis Ayu

Itulah rasa manis gadis ayu dan itulah yang kau pinta pada pagi ...sayangku.....


Karya : Sabadtitus jhian krisnoto

Judul : Tidak menghargai


Semakin hari tampah semaki sedih

Wajah yg dulu senyum sekarang menjadi pedih

Memang aku kelihatan seperti orng bodoh

Yang tak perna menghargai ketulusan cinta ini


Sekarang waktu sudah terganti

SayangMu itu sudah hilang dan pergi


Di mana kah...

Akan ku cari senyumMu itu lagi

Yang selalu menyemangati ku di pagi hari

Dan memberikan kesegaran pada malam ini


Kini penyesalan menghampiri

Lara tak mampu ku hindari

Coba sedari itu ku mengalah

Kemungkinan tak ada salah.


Judul : Balada Sore Ini

Karya : Dhanirama



Kota kumuh menunggu belas kasihan

Ketidak ramahan yang menjadi-jadi

Menumpang di tanah lahir, terampas

Tak pelik, begitulah buah keacuhan

Korban citra, korban harap


Baru tersadar seabad kemudian, sambil menagih janji

Besok ia akan cerita, "dahulu kala itu tanah moyangku"

Orang muda sudah bosan dengar dongeng

Tak ubahnya kisah bawang merah bawang bombay atau bekicot emas.


"Ahhh, saatnya kerja kerja kerja, perut menunggu minta ditambal, dongeng tidak bikin perut kenyang".

Balasnya kepada bapaknya, kepada kakeknya, kepada buyutnya, kepada moyangnya

Biar kepala kosong, biar hati kosong, asal perut tetap terisi

Begitulah prinsip yang kini jadi warisan.


Terpaksa makan yang mahal-mahal

Sederhana sudah jadi barang mewah

Suroto dan Karman cuma bisa menyeruput liur yang mengalir

Ketika alek dan boy cerita menu sarapan tadi pagi, tahu dan tempe goreng


Raja dan pembantunya berbangga, ekonomi meroket katanya

Daya beli meningkat, rakyat sanggup beli makan mahal adalah bukti

Para pemirsa mengangguk-angguk saja

sembunyikan kebingungan di laci lemari

"Kalau tak beli yang mahal lalu makan apa?"


Pengakuan disini yang diutamakan

Kenyataan nomer sekian

Kebohongan, kemunafikan dan kebencian

Jatuhkan kebenaran dan keikhlasan


Tuhan sudah tak laku lagi

Boleh saja dinista, asal jangan isi istana dan penasehatnya

Tuhan sudah tak laku lagi

Tidak untuk dipatuhi, cukup ritual budaya saja

Tuhan sudah tak laku lagi

Jangan dibawa-bawa, cukup pengakuan saja

"Kami masyarakat religius yang berlandaskan ketuhanan"


Pengobral ketololan terselamatkan, dipuja

Pesan Tuhan dan hati nurani dihardik, diserapah, dikebiri dalam kerangkeng

Sudahkah tuan-tuan yang terhormat leluasa lagi puas?

Sisa-sisa kecut keringat yang tersimpan dibalik bantal, terendus juga.

Tiada mual, tiada iba

Terbalut kesehatan, tanah suci dan kesejahteraan.

Sore ini,

Aku mengingat-ingat balada itu.


Judul : CERITA SANG PENA

Karya : Riesavatama


Lidahku kelu membeku

Kaku tak bergerak

Suaraku tertahan tak mampu

Tak kuasa satu katapun terucap


Tapi pikiranku bergerak liar

Mengajakku menari nakal

Merayuku untuk berdansa dalam khayal

Memaksaku untuk terbuai


Sekali lagi coba teriak

Tapi hanya nafas yang terdengar

Tak sanggup aku bicara

Untuk uraikan untaian kata


Pena tua menatapku nanar

Tintanya hampir habis sudah

Kuraih pena tua letakan disela jariku

Angin menuntun pena ditanganku


Penaku mulai bergerak

Lembut ikuti irama hati

Gemulainya menari diatas helai kosong

Dan penaku mulai bicara


Penaku bercerita tentang tangis dalam tawa

Dongengkan tawa dalam tangis

Tentang indahnya kehidupan

Dan tentang perihnya kenyataan


Tak terasa penaku bergerak semakin lambat

sang waktu menghisap semua

Membuat penaku lemah

Dan akhirnya diatas kertas itu penaku rebah


Judul : TANYA


Malam bertajuk bintang

Tapi,ku tak melihat ada bulan disana?

Setitik cahaya mengintip di balik rimbunnya atap rumah

Seakan ia malu menampakkan wajahnya.


Ku dengar sang bintang bercengkrama asyik dengannya

Tapi,tak ku lihat redupnya sang bintang?

Sinarnya terus memancar menghiasi gelapnya malam

Ku kira hanya kisah dongeng belaka yang membuatnya indah.


Aku tak mampu lagi menuliskan kata-kata

Semua kalimat yang tersirat,ada padanya

Sang rembulan hanya tersenyum manis ketika angin menyapanya

Mungkinkah ada sisa untuk bertanya?
Share This :

0 comments